Thursday, November 29, 2012

Iran Agen Israel?






Mengapa Iran Tak Serang Israel?

Oleh: Dina Y. Sulaeman*


Pertanyaan ini sering muncul di dalam berbagai diskusi di dunia maya, “Kalau Iran betul-betul anti-Israel, mengapa Iran sampai sekarang tidak jua menyerang Israel?” Pertanyaan ini konteksnya adalah menuduh Iran omdo (omong doang), bahkan ada yang lebih parah lagi, menggunakan teori konspirasi, “Ini bukti bahwa ada kerjasama di balik layar antara Iran dan Israel.”

Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar 687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai wilayah di sekitar Iran. AS adalah pelindung penuh Israel dan penyuplai utama dana dan senjata untuk militer Israel. Bujet militer Israel sendiri, pertahunnya mencapai 15 M Dollar (dua kali lipat Iran).

Sebelum menjawab ‘mengapa Iran tidak langsung menyerang Israel’?, mari kita jawab dulu pertanyaan sebaliknya, mengapa AS dan Israel tidak jua menyerang Iran? AS sebenarnya tidak berkepentingan menyerang Iran. Tetapi, Israel berkali-kali meminta AS untuk menyerang Iran dengan alasan “Iran memiliki nuklir yang mengancam keselamatan Israel.” Ketika rezim Obama enggan menuruti permintaan Israel, Israel bahkan mengancam akan menyerang Iran sendirian, tanpa bantuan AS. Untuk menelaah prospek perang AS+Israel melawan Iran, Anthony Cordesman dari Center for Strategic and International Studies merilis hasil penelitiannya pada bulan Juni 2012. CSIS melakukan kalkulasi bila AS dan Israel menyerang Iran, antara lain menghitung berapa banyak pesawat pengebom yang dibutuhkan, berapa banyak bom yang harus dibawa, apa kemungkinan serangan balasan dari Iran, dan bagaimana cara menghadapinya.


Salah satu kesimpulan yang diambil Cordesman adalah, profil militer Israel tidak akan mampu melakukan serangan tersebut. Untuk menyerang Iran, Israel harus mengerahkan seperempat pasukan udaranya dan semua pesawat tempurnya, sehingga tidak ada pesawat cadangan untuk berjaga-jaga. Pesawat-pesawat tempur itu harus melewati perbatasan Syria-Turki sebelum terbang di atas udara Irak and Iran. Dan wilayah-wilayah tersebut, sangat rawan bagi Israel. Menurut Cordesman, “Berdasarkan jumlah pesawat yang diperlukan, proses pengisian bahan bakar yang harus dilakukan sepanjang perjalanan menuju Iran, serta usaha mencapai target gempuran tanpa terdeteksi sangatlah beresiko tinggi dan kecil kemungkinan keseluruhan operasi militer tersebut akan berhasil.”

Dan bahkan jika pesawat tempur Israel berhasil mengebom reaktor nuklir Iran, pembalasan yang dilakukan Iran akan membawa dampak yang sangat buruk bagi kawasan Timur Tengah. Cordesman menulis, “Anda tidak akan ingin tahu seperti apa jadinya Timur Tengah sehari setelah Israel berupaya menyerang Iran.”

Karena itu, bila Israel berkeras ingin menyerang Iran, Israel harus menggandeng AS. Tapi, bila AS menyetujui permintaan Israel ini, AS harus mengerahkan ratusan pesawat dan kapal tempur. Serangan awal saja sudah membutuhkan alokasi kekuatan yang sangat besar, termasuk pengebom utama, upaya penghancuran system pertahanan udara lawan, pesawat-pesawat pendamping untuk melindungi pesawat pengebom, peralatan perang elektronik, patrol udara untuk menahan serangan balasan dari Iran, dll. Pada saat yang sama, AS harus menghalangi Iran agar tidak melakukan aksi apapun di Selat Hormuz. Bila Iran sampai berhasil memblokir Selat Hormuz, suplai minyak dan gas dunia akan terhambat dan efeknya akan sangat buruk bagi perekonomian dunia. Dan ini bukan pekerjaan mudah. Iran selama ini justru sangat memperkuat kemampuan militernya demi mengontrol Selat Hormuz bila terjadi perang. Meskipun, AS juga sudah mempersiapkan banyak hal untuk menjaga agar Hormuz tetap terbuka, antara lain dengan menempatkan berbagai perlengkapan militer di Bahrain, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, dan UAE. Namun inipun mengandung ancaman lain. Iran berkali-kali mengancam, bila wilayahnya diserang, Iran akan melakukan serangan balasan ke semua negara Arab yang di dalamnya ada pangkalan militer AS. Belum lagi, Rusia dan China diperkirakan akan ikut campur demi mengamankan kepentingan mereka sendiri di Timteng. Tak heran bila banyak analis mengungkapkan ramalan bahwa Perang Dunia III akan meletus bila AS sampai menyerang Iran.


Lihatlah situasinya: bila Israel dan AS menyerang Iran, artinya mereka keluar dari wilayah mereka sendiri dan harus bersusah-payah mengusung semua perlengkapan militernya. Lalu, urusan tidak selesai hanya dengan menjatuhkan bom ke situs nuklir Iran. Serangan balik dari Iran, dan posisi geostrategis Iran, sangat memberikan potensi kekalahan bagi AS dan Israel. Karena itulah, Menhan Leon Panetta sampai berkata, “Sangat jelas bahwa bila AS melakukan serangan itu, kita akan mendapatkan akibat buruk yang sangat besar.”

Sekarang mari kita balik: bagaimana seandainya Iran menyerang Israel? Minimalnya, ada dua versi jawaban yang bisa diberikan sementara ini.

Berdasarkan kalkulasi hard power. Ingat lagi profil militer Iran. Bisa dibayangkan, berapa banyak senjata yang dimiliki Iran dengan dana 7 M Dollar pertahun, dibandingkan dengan banyaknya senjata yang dimiliki AS dengan dana 687 M Dollar pertahun. Bandingkan lagi dengan kondisi ‘seandainya Israel menyerang Iran’ seperti yang sudah dianalisis Cordesman di atas. Kesimpulan yang bisa diambil adalah saat ini, profil militer Iran memang belum mampu menyerang Israel secara langsung, begitu juga sebaliknya, Israel juga belum mampu menyerang Iran secara langsung. Sementara, AS punya hitung-hitungan lain di luar sekedar menyerang Iran. AS akan menghadapi kehancuran ekonomi yang sangat parah bila sampai mengobarkan perang terhadap Iran.
Artinya, kedua pihak saat ini masih dalam posisi sama-sama bertahan. Itulah sebabnya, retorika Iran selama ini memang selalu defensif: Iran tidak mengancam akan menyerang, melainkan ‘akan membalas bila ada yang berani menyerang’. Seandainya Iran dalam posisi diserang dan membela diri dari dalam negeri (bukan dalam posisi menyerang dan mengirimkan pasukan ke luar wilayahnya) Iran sangat mungkin bertahan dan meraih kemenangan, karena memiliki keunggulan geostrategis. Hanya dengan memblokir Selat Hormuz, seluruh dunia akan merasakan dampak buruk perang dan bahkan AS akan bangkrut sehingga tak akan mampu melanjutkan perang.

Sebaliknya, untuk bisa maju perang (=secara ofensif mengirimkan senjata dan pasukan ke luar wilayahnya), Iran tidak mungkin maju sendirian. Bila negara-negara Arab, terutama yang berbatasan darat dengan Palestina, belum siap berjuang, tentu sangat konyol bila Iran harus mengirim pasukan ke Palestina yang jauhnya 1500 km dari Teheran. Berapa banyak pasukan, pesawat tempur, dan rudal yang mampu dikirim oleh Iran yang hanya punya anggaran 7 M Dollar pertahun? Bila Mesir saja yang pemerintahannya dikuasai Ikhwanul Muslimin (artinya, seideologi dengan Hamas) masih menutup pintu perbatasannya dengan Gaza; masih menolak untuk terjun langsung ke medan pertempuran membela saudara se-harakah mereka, mengapa Iran yang di-ojok-ojok untuk mengirim pasukan perang? Karena itu, dari sisi ini, hanya satu kata untuk menilai pertanyaan ‘mengapa Iran tidak langsung menyerang Israel?’ : naif.

2. Berdasarkan kalkulasi soft power. Sangat mungkin, di atas kertas, profil militer Iran memang seperti yang diungkapkan di atas. Tapi, bila diingat lagi percepatan kemajuan teknologi militer yang dicapai Iran dan statemen beberapa petinggi militer Iran yang menyebutkan bahwa kemampuan Iran ‘jauh lebih besar dari apa yang terlihat’, ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan. Iran adalah negara yang berbasis teologi mazhab Syiah dan meyakini adanya aspek transenden dalam setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin spiritual mereka (rahbar). Militer Iran pun berada di bawah wewenang rahbar, yang sekarang dijabat Ayatullah Khamenei. Iran meyakini bahwa Ayatullah Khamanei memiliki kemampuan transenden sehingga mengetahui kapan saat yang tepat untuk maju perang. Orang lain boleh tidak percaya, tetapi ini adalah urusan rakyat Iran sendiri.

Di sini, pertanyaan mengapa Iran belum juga menyerang Israel secara langsung (seandainya memang kemampuan militernya sebenarnya sudah mencukupi) akan mendapat jawaban sederhana saja: karena belum diizinkan oleh sang Rahbar. Lalu, mengapa Rahbar belum memberi izin? Silahkan dipikirkan sendiri, dengan mengaitkannya pada hal-hal yang bersifat ideologis dan relijius; dan hal ini di luar kapasitas saya untuk menjelaskan.

Intinya, perjuangan melawan Israel bukanlah perjuangan Iran saja. Ini seharusnya menjadi perjuangan bersama semua negara-negara muslim. Dan inilah yang terus diupayakan para pemimpin dan ulama Iran melalui berbagai statemen dan orasinya: membangkitkan kesadaran dan semangat juang kaum muslimin sedunia; sambil terus berupaya memperkuat profil militernya. Ini bukanlah omdo (omong doang), tapi upaya yang memang harus dilakukan sebelum mencapai kemenangan.

Akan tiba suatu masa ketika kaum muslimin sedunia bangkit bersatu dan bersama-sama merebut kembali Al Quds dari tangan para penjajah. Inilah janji Allah dalam QS 17:4-5, “Dan telah kami tetapkan terhadap Bani Israel di dalam Alkitab: sesungguhnya kalian akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan kalian akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Dan maka ketika telah tiba apa yang dijanjikan itu, akan kami bangkitkan para hamba yang perkasa dan memiliki kekuatan besar untuk mengalahkan kalian. Para hamba itu akan mencari kalian sampai ke tempat persembunyian kalian dan janji [Allah] itu pasti terjadi.”




 

Friday, October 26, 2012

"SE-PENGETAHUAN" (PENGETAHUAN / PENDAPAT / PANDANGAN TENTANG SYIAH IMAMIYYAH)


Salam alaikum.
Ok, ini adalah sedikit perkongsian tentang "sepengetahuan" aku tentang syiah (Imamiyyah). Bukanlah untuk mengajak kalian menjadi syiah, tetapi ini tidak lebih dari perkongsian untuk kalian fikirkan.



Ok, apa itu syiah Imamiyyah?


  • Imamiyyah atau Ja'fariah (شيعى) merujuk kepada satu aliran dalam Syiah yang mempercayai bahawa umat Islam wajib mengikut dua belas orang Imam, kesemuanya dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Rasulullah s.a.w. sendiri, yaitu menerusi anak beginda Fatimah Zahrah. Bilangan dua belas sealiran dengan hadith yang menyatakan bahwa umat Islam akan di perintah oleh 12 Khalifah selepas Rasulullah.
  • Syiah Imamiyyah percaya Muhammad Rasulullah sendiri mewasiatkan kepimpinan umat Islam kepada Ali bin Abi Talib sebagai Mawla dan Amirul Mu'mineen yang mesti ditaati selepas baginda. Dengan itu, Ali bin Abi Talib dianggap oleh Syiah Imamiyyah sebagai Imam pertama umat Islam. Melalui nas-nas, Allah SWT sendiri memberi petunjuk siapakah pewaris pucuk pimpinan. Imam tidak semuanya jatuh kepada anak lelaki pertama. Dalam hal imam kedua Syiah Imamiyyah yaitu Imam Hasan bin Ali,cucu Rasulullah, ia berpindah kepada adik beliau, Hussein bin Abi Talib.
  • Berdasarkan sumber rujukan aku; aku tanya dan check-out (baca) sendiri dari web page syiah Imamiyyah dan profil FB seorang penganut syiah Imamiyyah ni: mereka tidak lah mengkafirkan sahabat nabi. Bahkan Tok Guru mereka sendiri pun melarang mereka melakukan hal ini; termasuk mengkafirkan/melaknat Saidatina Aisyah.
  • Mereka turut mengakui bahawa dalam aliran syiah ini, ada yang ekstrim, (yang melampau ). Mereka turut menyatakan yang kitab-kitab mereka ada yang diseleweng (terutama kitab-kitab Ayatollah Khomeni) *pada pendapat aku, tak mustahil kitab-kitab yang diseleweng ini ada pengikutnya.
  • Mereka ini lebih menerima atau memuliakan Saidina Ali dan isterinya, Fatimah az-Zahra tetapi tidak la ke tahap mengkafirkan para sahabat. (Allahu a'lam) 
  • Mereka menyatakan (ini adalah suatu kemungkinan) di mana kitab-kitab yang diseleweng ini telah diletakkan di dalam 'gedung-gedung ilmu agamawan ahlu sunnah' dan diguna pakai agamawan ahlusunnah untuk menjatuh hukum 'sesat', 'kafir' terhadap syiah. 
Sila baca pendirian seorang saudara Islam ahlusunnah ini terhadap syiah *MUST READ!: http://manusiaperantau.blogspot.com/2010/06/pendirian-saya-terhadap-syiah-imamiyyah.html


Petikan dari link di atas:
Penegasan pertama:
Saya adalah Sunni yang tidak fanatik mazhab dan menerima mana-mana hujah dan dalil yang kuat daripada mazhab lain termasuk mazhab Syiah Imamiyyah. Mengapa saya banyak menulis mengenai Syiah? Ini kerana saya menganggap mereka (syiah) adalah Islam dan saudara seagama saya dan wajib bagi saya untuk mempertahankan mereka daripada tuduhan-tuduhan melulu dan fitnah. Saya menghormati Ayatullah Ruhullah Mousavi Khomeini sebagai seorang ulama yang agung (great ulama) dan pengasas Revolusi Islam Iran. Semoga Allah merahmatinya. Secara peribadi, saya tidak mempunyai masalah untuk makan bersama, malah bersolat di belakang seorang penganut Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah Islam. Saya juga menghormati Ayatullah Ali Khomenei, Ayatullah Ali Sistani, Mahmoud Ahmadinejad dan mana-mana ulama tanpa mengira mereka dari mazhab Hanafi, Hanbali, Syafie hatta Syiah Imamiyyah sekalipun. Kerana apa? Kerana kita dituntut untuk menghormati ulama dan alhamdulillah saya mengikut tuntutan tersebut.

Penegasan kedua:
Saya agak menyampah dan sinis dengan mana-mana individu yang mendakwa hanya mazhab mereka sahaja yang diterima Allah dan lain-lain mazhab yang tidak selari dengan mazhab mereka adalah terkeluar dari jalan yang benar. Tidak ada mana-mana pengisytiharan yang mengistytiharkan hanya mazhab Ahli Sunnah wal Jamaah sahaja yang benar dan confirm masuk syurga. Saya amat anti kepada mana-mana individu yang fanatik mazhab dan dengan beraninya mengkafirkan serta men'sesat'kan mazhab lain hanya kerana fatwa-fatwa yang dibuat oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Golongan ini saya labelkan sebagai fanatik buta. Dah la fanatik, tidak pula mahu menerima pendapat dari mazhab lain. Kamu mendakwa mengikut Sunnah Nabi tetapi kamu tidak pula mengikut sabda Nabi yang melarang kita mengkafirkan atau men'sesat'kan orang yang mengucap syahadah. Mengkafirkan orang lain merupakan sunnah Nabi yang mana?


Sejarah mencatatkan / membuktikan umat Islam menjadi huru hara kerana konflik sunni-syiah. Setahu aku, konflik ni kuat kat negara arab Islam luar sana tu. Sudahpun bermula dari zaman bani umayyah, abasiyah, uthmaniah dan diganti pula khalifah syiah fatimiyah. Ada yang mengatakan konflik sunni-syiah ini adalah rekayasa zionis.
Sejarah juga ada mencatat apabila sunni-syiah bersatu, mereka mampu mengalahkan musuh Islam.

Sila klik link ni: http://www.shia-explained.com/my/archives/3115

"Pada tahun 1789 penyerangan Perancis terhadap Mesir menyebabkan ulama Al-Azhar mengangkat bendera perang terhadap Perancis dengan sokongan daripada masyarakat dan menubuhkan persatuan muslimin dengan melupakan perbezaan-perbezaan mazhab. Kerjasama ulama Al-Azhar dan orang-orang Syi’ah serta anggota Taqrib yang lain menyebabkan kekalahan Perancis. Pada masa ini hukuman mati terhadap ulama Islam oleh kekuatan Perancis menguatkan lingkaran persatuan antara Muslim dalam menghadapi musuh luar."



*Sebenarnya, tujuan aku berkongsi hal ini adalah lebih kepada untuk bermuhasabah diri, sebabnya, apabila bab syiah, kita akan 'double standard', sebahagian dari kita mesti akan menghukum sesat, kafir dan lain-lain. Fikirkan, kalau kita boleh beri hak untuk bukan islam macam hindu, buddha, kristian, yahudi, kenapa kita tak boleh beri hak yang sama untuk syiah?

Ada benda yang kita boleh teladani dari syiah, contohnya kemajuan di Iran (yang majoriti rakyatnya syiah), revolusi menjatuhkan Shah Reza Pahlavi (yang dikepalai oleh Ayatollah Khomeni; semoga Allah merahmatinya), teladani akan kekuatan pengaruh Islam mereka.

Bekas ulama al-Azhar (seorang ulama ahlusunnah) pada tahun 50-an turut mengakui / mengesahkan syiah Imamiyyah adalah sah di sisi islam. Di bawah ini soalan dan jawapan yang dijawab oleh ulama' al-Azhar
Wallahu a'lam :)


Pejabat Pusat Universiti al-Azhar

Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang

Teks Fatwa yang dikeluarkan Yang Mulia Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar tentang Kebolehan Mengikuti Mazhab Syiah Imamiah

Soal: Yang Mulia, sebahagian orang percaya bahawa penting bagi seorang Muslim untuk mengikuti sal
ah satu dari empat mazhab yang terkenal agar ibadah dan muamalahnya benar secara syar’i, sementara Syiah Imamiah bukan salah satu dari empat mazhab tersebut, begitu juga Syiah Zaidiah. Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syiah Imamiyah Itsna ’Asyariyah misalnya?

Jawab:

1. Islam tidak menuntut seorang Muslim untuk mengikuti salah satu mazhab tertentu. Sebaliknya, kami katakan: setiap Muslim punya hak mengikuti salah satu mazhab yang telah diriwayatkan secara sahih dan fatwa-fatwanya telah dibukukan. Setiap orang yang mengikuti mazhab-mazhab tersebut boleh berpindah ke mazhab lain, dan bukan sebuah tindakan kriminal baginya untuk melakukan demikian.

2. Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyyah (Syiah Dua Belas Imam) adalah mazhab yang secara agama benar untuk diikuti dalam ibadah sebagaimana mazhab Sunni lainnya.

Kaum Muslim wajib mengetahui hal ini, dan sebolehnya menghindarkan diri dari prasangka buruk terhadap mazhab tertentu mana pun, kerana agama Allah dan Syari’atnya tidak pernah dibatasi pada mazhab tertentu. Para mujtahid mereka diterima oleh Allah Yang Mahakuasa, dan dibolehkan bagi yang bukan-mujtahid untuk mengikuti mereka dan menyepakati ajaran mereka baik dalam hal ibadah maupun transaksi (muamalah).

Tertanda,

Mahmud Syaltut

Fatwa di atas dikeluarkan pada 6 Juli 1959 dari Rektor Universitas al-Azhar dan selanjutnya dipublikasikan di berbagai penerbitan di Timur Tengah yang mencakup, tetapi tidak terbatas hanya pada:

1. Surat kabar Ash-Sha’ab (Mesir), terbitan 7 Juli 1959.

2. Surat kabar Al-Kifah (Lebanon), terbitan 8 Juli 1959.
Bagian di atas juga dapat ditemui dalam buku Inquiries About Islam oleh Muhammad Jawad Chirri, Direktur Pusat Islam Amerika (Islamic Center of America), 1986, Detroit, Michigan



Sila klik link ni (tentang Amman Message): http://shiiteandproud.wordpress.com/2012/09/02/kenapa-kecoh-pasal-amman-message/

Amman Message adalah satu perjanjian persefahaman antara kaum Muslimin, yang melarang pengkafiran sesama mereka dan mengiktiraf setiap kumpulan yang terdiri dari Sunni, Syiah dan beberapa kumpulan lain, sebagai Muslim. Ia ditandatangani oleh pemimpin politik dan agama dari berbagai negara Islam, dengan harapan menwujudkan kesatuan di kalangan orang Islam dan membendung konflik sektarian. Wakil dari Malaysia yang menandatangani Amman Message adalah:

H.E. Dato’ Seri Abdullah bin Haji Ahmad Badawi
Prime Minister


Dr. Anwar Ibrahim
Former Deputy Prime Minister


Dato’ Dr. Abdul Hamid Othman
Minister in the Office of the Prime Minister"

Lagi mengenai Amman Message:
http://www.shia-explained.com/my/archives/3140

Secara peribadi, aku hanya menyokong apa yang dinamakan PERPADUAN UMMAH (SUNNI-SYIAH) kalau Hezbollah (syiah) boleh bekerjasama dengan Hamas (sunni) untuk perjuangan Palestin, kenapa kita tidak boleh untuk mengenepikan perbezaan mazhab ini dan laksanakan perpaduan ummah? Namun perlu diakui yang di Malaysia ini sangat sukar untuk melaksanakan perkara ni

Klik link-blog ni: http://pengikutsetia.blogspot.com/2012/09/konflik-syiah-sunni-agenda-politik-jahat.html
petikan dari blog:
"dan saya lihat, Tuan Guru Haji Hadi mengambil langkah bijak dengan mengumumkan dalam ceramahnya di Qatar beberapa hari lalu mengenai Syiah."

"Haji Hadi memberitahu bahawa Syiah itu masih Islam. (maksud saya syiah imamiyyah)."

"tapi...

"org Syiah jangan masuk PAS."

"ini adalah langkah pengumuman yang bagus. :-)"


Tengok video ni pula:
http://www.youtube.com/watch?v=IM7LZxSAjr0&sns=fb
(Persidangan gerakan Islam sedunia. PAS turut hadir diwakiil presiden PAS sendiri. Afghan diwakil parti Islam pimpinan assyahid Burhanudin Rabbani. Beliau ditembak oleh pengganas qaeda kerana menghadiri persidangan ini bersama ayatullah [pemimpin shia])

PESANAN : AKU CUMA NAK KONGSI DENGAN KALIAN SEMUA. NAK PERCAYA ATAU TAK, TERIMA ATAU TAK, TERPULANG. SEBAB AKU YAKIN MASING-MASING PUNYA TAHAP RASIONAL PEMIKIRAN YANG TINGGI.  AKU AHLI SUNNAH WAL JAMAAH. SEKALIPUN JIKA BENAR SYIAH ITU ROSAK AKIDAH, SESAT, TAPI MEREKA JUGA PUNYA HAK. ALLAHU A'LAM.


ini aku petik kata-kata dari seorang aktivis/sarjana jalanan: 

"aku takdak fatwa. aku cuma ada pendapat aku. kalau betol, aku dapat pahala. kalau tak betol aku dapat dosa. aku manusia biasa. bukan azhar idros ataupun fathul bari."

kalau sekiranya perkongsian aku ni salah, maka aku akan terima kesalahan ini, jika aku betul alhamdulillah. Islam pun meraikan perbezaan pandangan / pendapat, Nabi Muhammad saw pun pernah berkata yang "perbezaan pendapat adalah rahmat Allah" :)

kalau korang nak ambil tahu pasal syiah Imamiyyah, boleh rujuk link ni: www.shia-explained.com

boleh juga melawat di fb dia ni: http://www.facebook.com/shiaexplained?ref=ts&fref=ts

mungkin juga boleh jumpa Khalid Ismath:  http://www.facebook.com/khalid.shiite.ummat.hizbullah?fref=ts

    asyura-jakarta

Tuesday, October 23, 2012

Iran, Mesir dan Pemikiran Taqrib Antara Mazhab


UNTUK BACAAN ARTIKEL PENUH SILA KLIK LINK:  http://www.shia-explained.com/my/archives/3115

Taqrib bermakna seruan untuk mendekatkan pandangan antara mazhab Islam. Pemikiran ini memiliki sejarah tersendiri di negara-negara Islam, terutamanya Mesir. Taqrib juga bererti kerjasama antara ulama untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang ada pada mazhab-mazhab Islam terutama mazhab Syi’ah dan Ahli Sunnah.

Para ulama Taqrib meyakini bahawa untuk mewujudkan matlamat Taqrib, Ahli Sunnah dan Syi’ah tidak harus meninggalkan ajarannya; akan tetapi, paksi Taqrib antara mazhab Islam adalah hidup bersama dengan jiwa bersaudara tanpa ada rasa bermusuhan satu sama lain. Natijahnya, matlamat Taqrib ialah mengurangi kekerasan dan permusuhan antara pengikut mazhab-mazhab Islam...

"... Pada tahun 1789 penyerangan Perancis terhadap Mesir menyebabkan ulama Al-Azhar mengangkat bendera perang terhadap Perancis dengan sokongan daripada masyarakat dan menubuhkan persatuan muslimin dengan melupakan perbezaan-perbezaan mazhab. Kerjasama ulama Al-Azhar dan orang-orang Syi’ah serta anggota Taqrib yang lain menyebabkan kekalahan Perancis. Pada masa ini hukuman mati terhadap ulama Islam oleh kekuatan Perancis menguatkan lingkaran persatuan antara Muslim dalam menghadapi musuh luar.

Muhammad Ali terpilih sebagai gabenor Mesir pada tahun 1805. Dia, seorang yang mencintai kekuasaan, menganggap wujud ulama-ulama Al-Azhar terutama persatuan di antara mereka dan masyarakat Islam sebagai penghalang untuk mengukuhkan kekuasaannya. Untuk menghilangkan penghalang-penghalang ini, dengan menggunakan senjata perselisihan ia menimbulkan perpecahan,  disamping memerintah dengan sewenang-wenang dan memisahkan antara agama dan politik untuk melemahkan Al-Azhar dan ulama Islam.

Politik ini  (yang berakhir dengan tidak mampunya Al-Azhar mengelola kewangannya) menyebabkan peringkatan bertahap universiti tersebut dan memaksanya untuk menggantungkan masalah kewangan daripada pihak lain, terutama kerajaan Inggeris. Pada tahun 1915 penasihat kewangan pemerintah Mesir –seorang Inggeris- menyarankan kepada pemimpin Al-Azhar untuk menerima bantuan daripada pemerintah Inggeris untuk memperbaiki kewangan ulama-ulama Al-Azhar (1). Pada masa ini, siasah pemerintah Mesir dan pendatang dari Inggeris adalah pemisahan antara agama dan politik serta menghalang perpaduan mazhab yang berbeza-beza dalam satu lingkungan Islam. Dengan ini, ulama mazhab-mazhab di Al-Azhar tidak dapat menjalankan misi Islami mereka disebabkan tidak ada perpaduan, fanatisme dan sikap memperhatikan keuntungan peribadi.

Pada tahun 70-an peningkatan hubungan antara ulama dan pusat-pusat lembaga agama yang berbeza-beza, terutama Syi’ah dan Ahlu Sunnah, mendorong terbentuknya “Dar Al-Taqrib” di Mesir. Beberapa marja’ faqih Syi’ah dunia, seperti Ayatullah Uzdma Burujerdi yang memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentukan pusat lembaga ini. Beliau memiliki keyakinan kuat bahawa perlunya pemecahan masalah di antara mazhab-mazhab Islam dan kewujudan hal ini akan meninggikan martabat Islam..."


  ...penerbitan kitab “Al-Muraja’at” yang merupakan syarah dari diskusi antara ulama besar Islam, Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi, salah satu dari pembawa bendera Taqrib di Jabal Amil, Lubnan, dan Syeikh Salim, pemimpin Al-Azhar, mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan kesalahpahaman Ahli Sunnah terhadap Syi’ah. Syeikh Salim dalam pertemuan terakhirnya mengakui bahawa tidak ada perbezaan di antara Ahli Sunnah dan Syi’ah dan pertentangan yang ada diantara Syi’ah dan Ahli Sunnah lebih sedikit dari pertentangan antara imam-imam empat mazhab.

Sebenarnya kehidupan kebudayaan Mesir memiliki kecenderungan kuat untuk mewujudkan misi Taqrib. Alasannya adalah sebagai berikut:

1. Adanya makam orang-orang yang dinisbahkan ke Ahlul Bait, seperti Malik Asytar di Mesir, yang menyebabkan masyarakat Negara ini menunjukkan kecintaannya pada Ahlul Bait lebih dari masyarakat Negara-negara lain.

2. Masyarakat Mesir secara terbuka memiliki kecenderungan untuk bersatu dan saling memahami antara saudara Muslim yang lain, termasuk syi’ah; dan kecenderungan ini bertambah setelah kemenangan revolusi Islam.

3. Peranan Al-Azhar yang merupakan asas besar dalam sisi moral dan spiritual, yang pada awalnya didirikan untuk memperluas mazhab Syi’ah dan pendekatan antara mazhab, tidak dapat dipandang sebelah mata.

4. Dari segi sejarah, pendirian pemerintahan Fatimiyun oleh orang-orang Syi’ah di Mesir dan permusuhan bersejarah antara masyarakat Mesir dengan Wahabi selalu menjadi penghalang usaha musuh-musuh Islam untuk menebar perpecahan. Tidak menghairankan jika dengan alasan di atas sebagian penetapan undang-undang Mesir dilakukan bersaskan faham mazhab Syi’ah. Sebagai contoh, dua pasal dari undang-undang sivil Mesir diambil dari mazhab Syi’ah. Pada zaman Abdul Nasir, Al-Azhar menerbitkan sebuah ensiklopedia fiqah yang bernama “Fiqh-e Islam Dar Mazaheb-e Hasytgone” (fiqih Islam dalam 8 mazhab) yaitu 4 mazhab Ahli Sunnah, mazhab Syiah 12 Imam, Zaidi, Ibadhi dan Dhohiri...


...

Meski pun penyerangan ini mengancam mazhab Syi’ah, tapi dari sisi lain ia menguntungkan dakwah Taqrib, kerana masyarakat Mesir menjadi ingin mencari tahu perbezaan Syi’ah dan Ahlu Sunnah. Munculnya intelek-intelek zaman itu membuatkan isu Taqrib semakin diangkat. Sebagai contoh, marhum Allamah Syeikh Muhammad Ghazali, seorang ulama yang diterima diseluruh kalangan masyarakat Mesir, selalu membantah perselisihan di antara umat Islam dan mendukung pemikiran Taqrib. Beliau berkata:
“Kekhawatiran akan perbezaan dalam Fiqah tidak perlu dikhuatirkan; kerana perbezaan Fiqah tidak dapat dimungkiri. Larangan taqlid pada mazhab tertentu tidak lebih dari sekadar fanatik yang tidak berharga”. (Surat Khabar Al-Zahram, 17/12/1370)

Para pemimpin Ikhwanul Muslimin juga sangat mementingkan masalah pendekatan dan menganggap keperluan mustahak perpaduan umat Islam dalam menghadapi musuh yang bersatu pada zaman ini.


Sunday, October 21, 2012

Mengapa Harus Syria? Syria diserang?

"MENGAPA HARUS SURIAH" ( JOSERIZAL JURNALiS,MER-C)
Oleh: Dr Joserizal Jurnalis SpOT*

Suriah adalah negara dengan jumlah penduduk 22.517.750 orang (estimasi 2010). Komposisi penduduk berdasarkan agama: Muslim Sunni 74%, Muslim Alawi-Syiah-Druze 16%, Kristen dan lainnya 10%.

Presiden Suriah sekarang adalah Bashar Al-Assad menggantikan bapaknya, Hafesz Al-Assad, seorang Marsekal. Hafesz Assad adalah pemimpin Suriah yang keras dan diktator. Bersama saudaranya, Rifyad Assad, mereka membawa Suriah melalui masa-masa sulit terutama dalam perang enam hari tahun 1967.

Hafesz berhasil menangkap Ellie Cohen, seorang mata-mata Israel, yang menyusup ke pemerintah Suriah sampai menjadi teman dekat Hafesz. Hafesz menggantung Ellie Cohen walaupun dia diprotes banyak negara. Hafesz memberangus Ikhwanul Muslimin, banyak korban berjatuhan. Tapi di sisi lain, dia juga mau menerima Hamas berkantor di Damaskus ketika negara-negara Arab tidak mau menerima mereka membuka perwakilan. Hafesz banyak menampung pengungsi Palestina, salah satu kamp yang pernah penulis bersama relawan MER-C kunjungi adalah kamp Yarmuk. Bashar jauh lebih lembut dari bapaknya karena dia orang sipil (dokter mata?). Kesalahan Bashar adalah track record keluarganya yang keras dan diktator, tidak transparan soal keuangan negara dan belum mengembangkan proses demokrasi di negaranya.

Tapi kelebihannya, dia komitmen terhadap perjuangan rakyat Palestina dengan menyediakan tempat buat Hamas di Suriah dan mendukung penuh Hizbullah. Hamas (Sunni) dan Hizbullah (Syiah) didukung penuh oleh Bashar karena mereka adalah kelompok perlawanan (muqowwamah) terhadap Israel. Penulis bersama relawan MER-C pada saat berkunjung ke Lebanon saat-saat akhir perang 34 hari tahun 2006, menyaksikan bahwa kantor Hamas berada di kompleks Hizbullah yang hancur dihajar Israel saat perang 34 hari. Ini sengaja penulis kemukakan untuk membantah bahwa Hizbullah pura-pura kerjasama dengan Hamas. Hizbullah berhasil mengalahkan Israel dalam perang darat tersebut. Israel sangat serius memandang ancaman kedua kelompok perlawanan ini, karena secara kekuatan mereka bukan negara tapi dapat mengimbangi, bahkan mengalahkan Israel ketika Israel mulai melakukan serangan darat. Tentu, Israel harus memikirkan bagaimana caranya melumpuhkan kedua kelompok perlawan bersenjata ini. Untuk Hamas, Israel melakukan kebijakan blokade Gaza karena Hamas memerintah di sini dan terus melakukannya sampai saat ini.

Untuk melumpuhkan Hizbullah, secara logika yang mudah saja, putus jalur pendukungnya. Jalur pendukung tersebut adalah Suriah. Oleh sebab itu, Suriah harus dikuasai secara politik. Ganti penguasanya!

Saat ini, di dunia Arab sedang ada tren mengganti penguasa yang sudah lama berkuasa dalam suatu gerakan Arab Spring dengan dalih untuk menegakkan demokrasi. Ini adalah road map-nya kebijakan luar negeri Amerika. Kita tahu kebijakan luar negeri AS ditentukan oleh badan-badan lobi Israel (AIPAC, ADL, CFR, Rand Coorporation, Bilderberg, dan lain-lain). Dari penguasa yang sudah tumbang dan yang sedang diusahakan tumbang, Qaddafi dan Bashar mempunyai kontribusi besar untuk Palestina. Penulis menyaksikan sendiri bantuan Qaddafi bertruk-truk antre di Rafah Mesir saat Gaza diserang Israel tahun 2009. Rencana penurunan Bashar ini semata-mata bukan persoalan Bashar demokratis atau tidak dan tiran atau tidak, karena ada penguasa Arab seperti ini tidak disuruh turun oleh AS, malah diajak kerjasama oleh AS untuk menurunkan Qaddafi dan Bashar. Israel menginginkan Bashar turun! Seperti biasa, Israel memperalat AS melalui kebijakan luar negerinya.

Bersamaan dengan semangat Arab Spring, Israel dan AS menunggangi isu ini untuk menurunkan Bashar. Supaya lebih efektif, isu ini ditambah tonasenya dengan isu sektarian, konflik Sunni-Syiah sama seperti Qaddafi yang disebut inkar sunnah. Israel, AS, Arab Saudi, Qatar, Turki dan Eropa berada dalam satu blok melawan Rusia, Cina dan Iran dalam konflik Suriah ini. Rusia sangat berkepentingan melawan dominasi AS di Timur Tengah karena tinggal Suriah tempat berpijak Rusia setelah Libya jatuh ke tangan Barat. Selain itu, AS juga mengacak-ngacak Rusia dengan cara meletakkan perimeter anti-rudalnya di bekas negara Uni Soviet seperti Georgia.

Cina tidak mau ketinggalan dalam melawan AS. Setelah berhasil menahan hegemoni AS di bidang ekonomi, Cina diancam oleh AS melalui pergerakan angkatan laut AS di Pasifik. Cina saat ini berhasil menciptakan kapal perang anti-radar yang membuat AS khawatir. Iran adalah negara yang tidak disenangi oleh Saudi Arabia, Qatar dan negara Arab lainnya karena berhasil melakukan Revolusi 79 menumbangkan Raja Reza Pahlevi yang juga sahabat penguasa Saudi Arabia. Para raja-raja khawatir revolusi tersebut diekspor ke negara-negara mereka. Salah satu cara untuk mempertahankan kekuasaan mereka, isu yang paling ampuh ditiupkan adalah Iran adalah negara Syiah bukan negara Islam karena Syiah sesat.

Iran mempunyai kepentingan yang besar di Suriah karena Bashar bisa menjamin jalur logistik Hizbullah. Israel dan Barat menggunakan segala cara untuk menurunkan Bashar, termasuk mempersenjatai oposisi dengan senjata berat. Di sinilah peranan Saudi Arabia, Qatar dan sedikit Turki. Israel dan Barat juga menggunakan media dan PBB untuk membantu mereka. Hal ini mulai terlihat ketika terjadinya pembantai 25 Mei di Houla, Suriah. Korban adalah penduduk sipil termasuk anak-anak dan wanita.

BBC langsung menampilkan foto tumpukan korban pembantaian yang sudah dibungkus kain kafan. Ternyata kemudian terkuak foto tersebut adalah foto korban pembantaian di Irak tahun 2003. Untung pengambil fotonya, Marco Di Lauro, mengenali foto tersebut dan memprotes BBC. Pertanyaannya apakah ini keteledoran atau bagian dari kampanye anti-Bashar?

UN Commisioner for Human Right membuat tuduhan bahwa yang melakukan pembantaian tersebut adalah milisi yang loyal dengan Bashar, yaitu Shabiyya. Padahal, mereka hanya dapat info dari orang lokal via telepon.

Menurut UN Security Council, korban di Houla adalah akibat tembakan artileri dan tank pada hari Ahad, 27 Mei 2012. Tapi pada hari Selasa 29 Mei, diralat oleh UN High Commission for Human Right bahwa korban ditembak dari jarak dekat dan digorok lehernya. Tapi tuduhan tetap ke milisi pro Bashar. Kemudian terkuak bahwa yang terbunuh itu adalah pendukung Bashar. Bagaimana mungkin sesama pendukung Bashar saling bunuh. Tampak dengan jelas bagaimana media dan PBB berusaha memperkeruh situasi supaya AS dan NATO dapat melakukan intervensi dengan payung PBB atas nama kemanusiaan.

Konflik belum selesai, kita lihat bagaimana permainan Israel ini berjalan.
*Relawan Medis MER-C

Ibnu Azmi: Sengaja saya sharing perkara ini. Isu Syria adalah antara isu yang paling kuat dipermainkan buat masa sekarang yang menyabitkan Syiah. Namun akal yang sihat pasti akan menemui kebenaran disebalik kisah-kisah yang dilontarkan oleh media-media kuffar.

sumber: http://shiiteandproud.wordpress.com/2012/06/13/mengapa-harus-syria/